Manchester United Diyakini akan Kesulitan Rekrut Jadon Sancho

Manchester United boleh jadi begitu menginginkan Jadon Sancho dan mungkin akan mengerahkan segala usaha untuk mendapatkan servis Winger muda Inggris tersebut. Namun, Fabrizio Romano percaya bahwa transfer ini tak akan mudah bagi Setan Merah.

Sejatinya, kabar ketertarikan Manchester United pada Jadon Sancho sudah mulai tersiar sejak bursa transfer musim panas kemarin. Wajar saja, Winger berusia 20 tahun tersebut tampil cemerlang bersama dengan raksasa Bundesliga jerman, Borussia Dortmund.

Namun, entah karena alasan apa Setan Merah mundur dari perburuan Winger Timnas Inggris tersebut. Dan mungkin mereka menyesalinya, karena sang pemain kembali tampil moncer bersama Die Borussen.

Kini, MU diyakini siap memanfaatkan bursa transfer musim panas mendatang untuk merekrut Sancho lagi. Namun, Proses transfer Sancho ke Old Trafford diprediksi tidak akan berjalan dengan mudah.

Alasannya karena banderol tinggi yang disematkan Borussia Dortmund terhadap sang pemain.

“Realitasnya adalah Man United jatuh cinta pada Jadon Sancho, baik dari manajemen Manchester United atau dari Ole Gunnar Solskjaer,” beber Romano dalam wawancara di The United Stand.

Lebih lanjut, Romano juga tak ragu bahwa Manchester United siap merogoh kocek yang dalam untuk Jadon sancho. Hanya saja, hal yang membuat Setan Merah mungkin sulit mewujudkan transfer ini adalah pandemi Virus Corona yang membuat kondisi keuangan klub sedikit goyah.

“United ingin merekrutnya dan pada awalnya saya rasa Man United akan siap memberikan tawaran besar untuknya. Namun ternyata virus corona mempengaruhi bursa transfer dan situasinya kini berbeda jauh.” Tandasnya.

Menurutnya, Sancho juga sudah pasti bersedia merapat ke Old Trafford, hanya saja Romano ragu ada klub yang rela mengeluarkan uang sebesar 110 Juta Poundsterling di tengah situasi ini.

“Man United masih mengontak agennya dan mereka berbicara dengan Jadon Sancho. Untuk kontrak tidak jadi masalah karena Jadon Sancho tahu bahwa Man United adalah tim besar.”

“Namun masalah utamanya ada di antara United dan Dortmund. Ini bukan hanya masalah yang dialami Man United, karena semua klub top mengalami kondisi yang sama. Untuk saat ini mustahil bagi sebuah klub untuk menghabiskan banyak uang untuk pemain ini” tutupnya.

Sanchez Diyakini Akan Bersinar di MU Musim Depan

Alexis Sanchez memang sempat dicap gagal bahkan dipinjamkan ke klub lain, namun demikian pemain Chile itu masih bisa tampil garang bersama Manchester United musim depan.

Keyakinan itu diungkapkan oleh Reinaldo Rueda, pelatih Tim Nasional Chile. Dia bahkan sangat optimis bahwa sang winger akan segera bangkit dan menunjukkan potensi terbaiknya di Manchester United pada kampanye musim depan.

Seperti diketahui, Alexis Sanchez bergabung dengan Manchester United pada bursa transfer musim dingin Januari 2018 lalu. Harapan besar tentu disandarkan di pundak eks pemain Barcelona, setelah sebelumnya dia tampil gemilang bersama dengan Arsenal.

Sayang, 1,5 tahun pertamanya di United tidak berjalan mulus sehingga ia dipinjamkan ke Inter Milan pada musim panas kemarin. Akan tetapi, kembali ke Serie A italia tak lantas membuat mantan bintang Barcelona ini kembali menemukan kemampuan terbaiknya.

Performanya cenderung biasa saja, sehingga muncul kabar yang mengklaim bahwa Inter berencana mengembalikannya ke MU. Namun Rueda yakin bahwa apa yang terjadi pada Sanchez saat ini tidak mencerminkan siapa dia sebenarnya.

“Ini sudah menjadi tahun yang menyiksa dan membuatnya trauma,” buka Rueda kepada SPORT.

Rueda menganggap bahwa Sanchez hanya kurang beruntung, kesialan menimpanya secara bertubi-tubi. Sialnya lagi, ketika dia sudah pulih dari cedera dan berada dalam kondisi terbaik, pandemi Virus Corona melumpuhkan kompetisi sepakbola.

“Sejak ia pergi dari Arsenal dan tahun pertamanya di Manchester United benar-benar diterpa banyak kesialan.”

“Ia kemudian bermain di Copa America di Brasil dan kemudian mengalami cedera dalam laga persahabatan melawan Colombia di Alicante. Peminjamannya di Inter juga nyaris gagal, dan ketika ia pulih dari cedera malah pandemi ini datang.” Tandasnya.

Sang juru taktik sama sekali tak meragukan kemampuan Alexis Sanchez, dan yakin pemainnya itu bisa jadi pemain yang hebat jika diberikan kesempatan lagi oleh Manchester United.

“ia bisa menjadi pemain yang hebat jika ia diberikan kesempatan. Dia saat ini masih belum menunjukkan kemampuan sebenarnya di level tertinggi.” ujarnya.

Sebelumnya, pelatih Ole gunnar Solksjaer sempat mengaku akan memberikan kesempatan kepada Alexis Sanchez.

David Luiz Sanjung Dampak Positif Kedatangan Arteta

Menurut bek asal Brazil ini, Mikel Arteta adalah manajer yang tepat untuk Arsenal dari segi taktik dan caranya menangani pemain.

Seperti diketahui, Mikel Arteta ditunjuk menangani Arsenal sejak akhir Desember 2019 lalu, menggantikan Unai Emery yang didepak beberapa waktu sebelumnya.

Pada awalnya, Mikel Arteta diragukan bisa membawa Arsenal ke arah yang lebih baik, pasalnya sosok yang merupakan mantan pemain The Gunners tersebut tak punya pengalaman melatih tim. Sebelumnya, dia hanya bekerja sebagai assisten Pep Guardiola di Manchester City.

Benar saja, dari segi hasil, Arsenal tampak biasa saja dibawah arahan manajer asal Spanyol ini. Namun dari segi performa, Bellerin dkk tampak membaik. Mereka mulai bisa konsisten, dan masalah lini pertahanan yang selama ini jadi bahan kritikan sudah tampak membaik.

Tak heran jika bek David Luiz sangat optimis Arsenal bisa melangkah maju bersama dengan Mikel Arteta di kursi manajer. Pria asal Spanyol tersebut menurutnya memang sosok yang tepat untuk menangani Arsenal.

“Mikel tampil dengan luar biasa, saya menikmati sepak bola hampir 33 tahun dan masih belajar dan meningkatkan dan untuk melihat betapa indahnya sepak bola,”

“Setiap hari ia mengubah sesuatu dan bagaimana ide dan filosofi baru masih dapat meningkatkan saya sebagai pribadi, sebagai pemain dan sebagai pemimpin.” kata Luiz kepada Adidas, seperti dilansir Goal International.

Selain itu, menurut mantan pemain Chelsea ini, Mikel Arteta telah membantu para pemain untuk memahami skema yang ada di atas lapangan.

“Mikel telah berusaha membuat kami mengerti di mana harus bermain dan bagaimana cara bermain. Ia memberi kami rencana: ‘Jika tim seperti itu, jika ada blok rendah memarkir bus bagaimana Anda dapat membuat peluang, ambil tanggung jawab untuk membuat umpan berisiko.“

“Jika operan tiba di sana maka kami menciptakan peluang dan mencetak gol, jika operan itu tidak tiba di sana kita bisa memenangkan bola dengan cepat.” Tandasnya.

Arsenal sendiri targetkan satu tempat di ajang Liga Champions Eropa musim depan. Namun tampaknya sulit terwujud, pasalnya sekarang mereka berada di peringkat ke-9 pada klasemen sementara Premier League.

Ibrahimovic Pernah Hina Rekan-Rekan Setimnya

Menjadi rekan satu tim seorang pemain top dunia sekelas Zlatan Ibrahimovic mungkin terdengar menyenangkan. Tapi jangan salah, pemain veteran Swedia tersebut ternyata tak segan menghina semua rekan satu timnya. Bagaimana bisa?

Hal ini diungkapkan oleh Bek San Jose Earthquakes, Florian Jungwirth ketika bercerita tentang pengalamannya saat berhadapan dengan LA Galaxy yang kala itu masih diperkuat Ibra.

Sebagaimana diketahui, Zlatan Ibrahimovic memang pernah bermain untuk LA Galaxy. Dia bergabung dengan klub Amerika Serikat tersebut pada tahun 2018 silam, dan baru habis kontraknya pada musim dingin Januari 2020 kemarin, lantas bergabung dengan mantan klubnya, AC Milan.

Nah, selama periode dua musim di Major League Soccer, Ibra memang beberapa kali berhadapan dengan San Jose Earthquakes yang diperkuat Jungwirth. Pertemuan pertama berlangsung di tahun 2018, dan menurutnya saat itu momennya sangat lucu.

Dianggap lucu karena dia menyaksikan Ibra terus meneriaki dan menghina semua rekan satu timnya selama 90 menit pertandingan.

“Saya pikir itu pada tahun 2018 ketika kami bermain di Stanford melawan Zlatan untuk pertama kalinya – dan ia seperti benar-benar menghina semua rekan satu timnya. Selama 90 menit – ia meneriaki semua orang. Itu lucu,” kata Jungwirth dalam sesi tanya jawab di Twitter, seperti dilansir Goal International.

Menariknya lagi menurut Jungwirth bahwa semua pemain LA Galaxy tampak sangat ketakutan dengan teriakan dari Ibrahimovic. Itu adalah momen yang lucu bagi pemain San Jose Earthquakes.

“Semua orang sangat takut padanya dan saya hanya tertawa karena semua orang seperti anak kecil. Mereka seperti, ‘Ayah, bisakah saya mengambil sesuatu darimu?'”

Meski demikian, hal tersebut bukan berarti dia punya masalah pribadi dengan pemain Swedia. Jungwirth mengungkapkan bahwa ia sengaja menghindari ketegangan karena ia merasa hal itu mendorong Ibrahimovic bermain ke tingkat yang lebih tinggi.

“Ia diam terhadap kami – saya tidak mengatakan apa-apa,” katanya.

Ibra sendiri bermain gemilang semasa membela LA Galaxy. Kontraknya baru berakhir pada Desember 2019, dan memutuskan bergabung dengan mantan klubnya, AC Milan. Kontraknya dengan Rossoneri berlaku sampai akhir musim ini.

Miralem Pjanic Ternyata Sempat Diincar Real Madrid dan PSG

Kabar tersebut diungkapkan oleh salah seorang mantan rekan dekat Pjanic di Juventus, Medhi Benatia. Sayangnya, tak satupun dari dua raksasa Eropa itu yang berhasil menggaet sang gelandang.

Miralem Pjanic memang sosok gelandang kreatif, dia adalah kreator serangan mumpuni. Gelandang asal Bosnia dan Herzegovina itu merapat ke Turin pada tahun 2016. Ia didatangkan dari AS Roma, tugasnya adalah menggantikan peranan Paul Pogba yang sebelumnya merapat ke Old Trafford.

Empat musim sudah berlalu, selama periode tersebut Pjanic selalu jadi andalan di lini tengah Bianconneri. Performanya yang apik dan konsisten selama periode tersebut tak ayal memunculkan kabar ketertarikan sejumlah raksasa Eropa.

Kabarnya juga, dua diantara para peminat sang gelandang adalah Paris Saint-Germain dan Real Madrid. Namun pada akhirnya Pjanic tetap bertahan di Allianz Stadium.

Meski demikian, kabar ketertarikan dua raksasa Eropa itu memang benar adanya. Hal ini diungkapkan mantan bek Juventus, Medhi Benatia. Bahkan, hampir setiap edisi bursa transfer, Pjanic selalu mendapat tawaran yang menggiurkan.

“Dia masih memiliki kontrak tiga tahun di Juventus, dan Juve saat ini tengah berada dalam kondisi yang baik. Memang benar bahwa di setiap bursa transfer, ia [Pjanic] punya peluang untuk pergi. PSG benar-benar tertarik padanya, bahkan Real Madrid sempat mengejarnya juga.” ujar Medhi Benatia kepada Tuttosport.

Benatia menyebut bahwa Pjanic tidak akan meninggalkan skuat Si Nyonya Tua dalam waktu dekat ini. Bukan tanpa alasan, karena sang gelandang benar-benar sudah jatuh cinta pada Juventus dan bertekad bertahan lebih lama bersama dengan juara bertahan Serie A italia tersebut.

Medhi Benatia mendukung sepenuhnya rencana Pjanic untuk bertahan di Turin, terlebih klub saat ini sedang dalam kondisi yang bagus.

“Pada akhirnya ia selalu bertahan bersama Juventus. Cintanya kepada Juventus tidak terkalahkan, karena ia merasa percaya diri di tim ini.” ujarnya.

Sayangnya menurut sejumlah kabar yang terdengar, Pjanic bakal dijual Juventus di musim panas nanti. Hasil penjualan eks AS Roma tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli Winger muda Prancis, Kylian Mbappe.