Setelah Pulih dari Cedera Parah, Asensio Merasa Jadi Pemain Baru Madrid

Pandemi Covid-19 memang telah membawa dampak negatif bagi hampir seluruh aspek kehidupan, namun dibaliknya ada hikmah positif. Salah satunya bagi para pemain sepakbola yang awalnya diprediksi absen sampai akhir musim, kini mereka bisa bermain lagi saat liga digulirkan kembali.

Hal yang sama juga terjadi pada penyerang muda Spanyol, Marco Asensio yang mengalami cedera parah sejak awal musim ini.

Saat skuat arahan Zinedine Zidane memainkan laga pra musim, Asensio mengalami cedera ACL Parah yang diprediksi baru pulih setelah musim 2019/20 ini berakhir. Seharusnya Asensio tidak bisa bermain lagi di sisa musim ini.

Akan tetapi, Pandemi Corona kemudian membuat La Liga terhenti sementara waktu, dengan begitu Asensio masih berpeluang tampil di sisa musim ini.

Pasalnya, sang pemain sudah pulih bahkan mulai berlatih penuh bersama skuad Madrid, Rabu (27/5/2020) kemarin. Jadi, kemungkinan besar Asensio akan diturunkan lagi oleh manajer Zinedine Zidane pada sisa 11 laga musim ini, tapi tergantung pada kebijakan sang juru taktik.

Dengan kata lain, Asensio tampak seperti pemain baru bagi Real Madrid di sisa 11 laga musim ini. Sang pemain tampak sangat bersemangat dan termotivasi.

“Kami benar-benar ingin La Liga dimulai dan menghadapi 11 pertandingan sisa yang bakal jadi situasi hidup mati, kami akan mencoba dan memenangi semua yang tersisa,”

“Kami semua sudah kembali ke level fisik yang yang bagus, ada hasrat tinggi untuk segera kembali. Kami ingin berlatih bersama sebab semangat tim sedang sangat bagus.” ujar Asensio kepada Real Madrid TV.

Selanjutnya, pemain berusia 24 tahun tersebut bicara soal kondisi pemulihannya. Dia merasa lututnya sudah pulih, tidak ada masalah, dan sekarang hanya proses adaptasi saja dengan tim yang baru.

“Lutut saya merespons dengan baik dan saya merasa fisik saya sangat baik. Saya sudah menunggu lama, saya harus bersabar dan rasanya sulit melihat rekan-rekan di lapangan tapi Anda hanya di dalam gym. Namun, saya kira perjuangan ini layak sampai saat ini,” tutupnya.

Tapi sejauh ini belum ada kejelasan, kapan La Liga Spanyol akan digulirkan lagi, meski klub sudah diizinkan berlatih lagi.

Kylian Mbappe Bisa Jadi Suksesor Ronaldo di Real Madrid

Salah seorang legenda Tim Nasional Italia dan Real Madrid, Fabio Cannavaro mendukung penuh wacana perekrutan Winger Prancis, Kylian Mbappe oleh Real Madrid.

Mbappe memang tampil cemerlang sejak masih membela AS Monaco dulu, dimana hal tersebut juga yang membuatnya dibeli Paris Saint-Germain pada musim panas tahun 2017 seharga 180 Juta Euro.

Bersama dengan Les Parisiens, performa Mbappe terus berkembang, dia bahkan juga memenangkan gelar juara dunia bersama dengan Tim Nasional Prancis di tahun 2018 lalu. Jadi wajar jika pemain berusia 21 tahun tersebut menarik minat Real Madrid.

Sedangkan Cristiano Ronaldo sebelumnya adalah pemain penting Los Blancos, selama periode 2009 sampai 2018. Selama sembilan musim membela Real Madrid, kapten Timnas Portugal itu berhasil mencetak 450 gol dari 438 penampilan di seluruh ajang.

Lewat gelontoran gol-golnya tersebut, Ronaldo mempersembahkan 15 trofi juara untuk Real madrid, termasuk empat gelar Liga Champions Eropa. Namun, sejak kepergian Ronaldo ke Juventus pada Juli 2018, Real Madrid seperti kehilangan ketajaman.

Bale, Benzema, Luka Jovic, Mariano Diaz sampai yang baru didatangkan dari Chelsea, Eden Hazard masih belum mampu menjadi suksesor Ronaldo.

Nah, menurut Cannavaro, Sosok Kylian Mbappe memang tepat untuk dijadikan sebagai suksesor Ronaldo di Santiago Bernabeu.

“Real Madrid membutuhkan pemain seperti Mbappe, bintang muda yang bisa mengikuti jejak Cristiano Ronaldo,” kata Cannavaro yang kini melatih klub China, Guangzhou Evergrande.

Mbappe mahir mencetak gol seperti Ronaldo, dimana dari 120 pertandingan yang sudah dijalani bersama PSG, Kylian Mbappe sukses mendulang 90 gol. Dari segi performa, tak ada keraguan dari sosok Mbappe.

Tapi, Cannavaro ragu Real Madrid bisa membeli sang pemain, karena Paris Saint-Germain bukan tim penjual. Mereka juga berambisi menjadi juara di pentas Eropa.

“Hal normal jika Madrid ingin merekrutnya, tetapi juga harus diperhitungkan jika PSG tidak membutuhkan uang. Mereka klub ambisius dan ingin memenangkan Liga Champions,”

“Saya menilai akan sulit bagi Madrid untuk mendapatkannya. Presiden PSG adalah orang yang ingin menang, saya kenal mereka dengan baik dan mereka akan berjuang keras untuk mempertahankan Mbappe,” ucap Cannavaro.

Jika Gagal Dapatkan Messi, Moratti Ingin Inter Beli Dybala

Mantan Presiden Inter Milan, Massimo Moratti kembali lantang menyuarakan keinginannya agar Nerazzurri merekrut mega bintang Argentina, Lionel Messi. Namun, andai gagal mendapatkan servis pemain 32 tahun itu, Moratti inginkan Dybala yang merapat ke San Siro.

Sebagai informasi, Massimo Moratti sebenarnya sudah lama meninggalkan jabatannya sebagai Presiden Inter Milan. Namun ia masih sering memberikan komentar dan memberikan saran kepada bekas klub pimpinannya tersebut.

Belakangan, Moratti sering kali memberikan saran kepada Inter Milan untuk merekrut mega bintang Argentina, Lionel Messi yang kini tengah berada di penghujung kontraknya bersama Barcelona. Bagi Moratti, gagasan perekrutan Messi bukanlah imajinasi yang berlebihan.

Terlebih, selama beberapa bulan terakhir ini Barcelona juga kerap mengindikasikan minat mereka terhadap striker andalan Inter Milan, Lautaro Martinez. Bintang berusia 22 tahun tersebut bakal dijadikan sebagai suksesor Luis Suarez di lini depan raksasa Catalan.

Hanya saja, dipercaya bahwa raksasa Catalan tak setuju untuk membayar klausul rilis Lautaro Martinez yang bernilai 111 juta euro. Sebagai gantinya, juara bertahan La Liga Spanyol tersebut akan menawarkan opsi pertukaran pemain.

Karenanya, Massimo Moratti menyarankan Inter Milan agar meminta Barcelona menyertakan Messi sebagai bagian pertukaran.

“Jika Messi yang datang, itu hebat,” ujarnya pada Gazzetta dello Sport.

Tapi jika memang bintang 32 tahun itu mustahil direkrut, maka Inter harus menimbang opsi perekrutan Paulo Dybala dari klub rival, Juventus.

“Dan jika Leo mustahil didatangkan, saya ingin Dybala di posisi Toro,” seru Moratti.

Serie A Italia sendiri saat ini sedang ditangguhkan karena pandemi Virus Corona. Situasi sepakbola di Italia sedang krisis, seperti mengingatkan kita akan kasus Calciopoli di tahun 2006 silam. Setelah skandal tersebut terungkap, sepakbola tak lagi diminati di Italia.

Namun, Moratti memandangnya sebagai dua hal yang berbeda.

“Ada sedikit perbedaan. Saat itu, itu ada yang curang. Sekarang, itu adalah virus yang telah melumpuhkan planet ini,” ujar Moratti.

Belakangan ini, ada wacana pengguliran kembali kompetisi Serie A Italia. Terlebih pemerintah telah melonggarkan aturan lockdown sejak beberapa hari terakhir.

Manchester United Diyakini akan Kesulitan Rekrut Jadon Sancho

Manchester United boleh jadi begitu menginginkan Jadon Sancho dan mungkin akan mengerahkan segala usaha untuk mendapatkan servis Winger muda Inggris tersebut. Namun, Fabrizio Romano percaya bahwa transfer ini tak akan mudah bagi Setan Merah.

Sejatinya, kabar ketertarikan Manchester United pada Jadon Sancho sudah mulai tersiar sejak bursa transfer musim panas kemarin. Wajar saja, Winger berusia 20 tahun tersebut tampil cemerlang bersama dengan raksasa Bundesliga jerman, Borussia Dortmund.

Namun, entah karena alasan apa Setan Merah mundur dari perburuan Winger Timnas Inggris tersebut. Dan mungkin mereka menyesalinya, karena sang pemain kembali tampil moncer bersama Die Borussen.

Kini, MU diyakini siap memanfaatkan bursa transfer musim panas mendatang untuk merekrut Sancho lagi. Namun, Proses transfer Sancho ke Old Trafford diprediksi tidak akan berjalan dengan mudah.

Alasannya karena banderol tinggi yang disematkan Borussia Dortmund terhadap sang pemain.

“Realitasnya adalah Man United jatuh cinta pada Jadon Sancho, baik dari manajemen Manchester United atau dari Ole Gunnar Solskjaer,” beber Romano dalam wawancara di The United Stand.

Lebih lanjut, Romano juga tak ragu bahwa Manchester United siap merogoh kocek yang dalam untuk Jadon sancho. Hanya saja, hal yang membuat Setan Merah mungkin sulit mewujudkan transfer ini adalah pandemi Virus Corona yang membuat kondisi keuangan klub sedikit goyah.

“United ingin merekrutnya dan pada awalnya saya rasa Man United akan siap memberikan tawaran besar untuknya. Namun ternyata virus corona mempengaruhi bursa transfer dan situasinya kini berbeda jauh.” Tandasnya.

Menurutnya, Sancho juga sudah pasti bersedia merapat ke Old Trafford, hanya saja Romano ragu ada klub yang rela mengeluarkan uang sebesar 110 Juta Poundsterling di tengah situasi ini.

“Man United masih mengontak agennya dan mereka berbicara dengan Jadon Sancho. Untuk kontrak tidak jadi masalah karena Jadon Sancho tahu bahwa Man United adalah tim besar.”

“Namun masalah utamanya ada di antara United dan Dortmund. Ini bukan hanya masalah yang dialami Man United, karena semua klub top mengalami kondisi yang sama. Untuk saat ini mustahil bagi sebuah klub untuk menghabiskan banyak uang untuk pemain ini” tutupnya.

Sanchez Diyakini Akan Bersinar di MU Musim Depan

Alexis Sanchez memang sempat dicap gagal bahkan dipinjamkan ke klub lain, namun demikian pemain Chile itu masih bisa tampil garang bersama Manchester United musim depan.

Keyakinan itu diungkapkan oleh Reinaldo Rueda, pelatih Tim Nasional Chile. Dia bahkan sangat optimis bahwa sang winger akan segera bangkit dan menunjukkan potensi terbaiknya di Manchester United pada kampanye musim depan.

Seperti diketahui, Alexis Sanchez bergabung dengan Manchester United pada bursa transfer musim dingin Januari 2018 lalu. Harapan besar tentu disandarkan di pundak eks pemain Barcelona, setelah sebelumnya dia tampil gemilang bersama dengan Arsenal.

Sayang, 1,5 tahun pertamanya di United tidak berjalan mulus sehingga ia dipinjamkan ke Inter Milan pada musim panas kemarin. Akan tetapi, kembali ke Serie A italia tak lantas membuat mantan bintang Barcelona ini kembali menemukan kemampuan terbaiknya.

Performanya cenderung biasa saja, sehingga muncul kabar yang mengklaim bahwa Inter berencana mengembalikannya ke MU. Namun Rueda yakin bahwa apa yang terjadi pada Sanchez saat ini tidak mencerminkan siapa dia sebenarnya.

“Ini sudah menjadi tahun yang menyiksa dan membuatnya trauma,” buka Rueda kepada SPORT.

Rueda menganggap bahwa Sanchez hanya kurang beruntung, kesialan menimpanya secara bertubi-tubi. Sialnya lagi, ketika dia sudah pulih dari cedera dan berada dalam kondisi terbaik, pandemi Virus Corona melumpuhkan kompetisi sepakbola.

“Sejak ia pergi dari Arsenal dan tahun pertamanya di Manchester United benar-benar diterpa banyak kesialan.”

“Ia kemudian bermain di Copa America di Brasil dan kemudian mengalami cedera dalam laga persahabatan melawan Colombia di Alicante. Peminjamannya di Inter juga nyaris gagal, dan ketika ia pulih dari cedera malah pandemi ini datang.” Tandasnya.

Sang juru taktik sama sekali tak meragukan kemampuan Alexis Sanchez, dan yakin pemainnya itu bisa jadi pemain yang hebat jika diberikan kesempatan lagi oleh Manchester United.

“ia bisa menjadi pemain yang hebat jika ia diberikan kesempatan. Dia saat ini masih belum menunjukkan kemampuan sebenarnya di level tertinggi.” ujarnya.

Sebelumnya, pelatih Ole gunnar Solksjaer sempat mengaku akan memberikan kesempatan kepada Alexis Sanchez.

David Luiz Sanjung Dampak Positif Kedatangan Arteta

Menurut bek asal Brazil ini, Mikel Arteta adalah manajer yang tepat untuk Arsenal dari segi taktik dan caranya menangani pemain.

Seperti diketahui, Mikel Arteta ditunjuk menangani Arsenal sejak akhir Desember 2019 lalu, menggantikan Unai Emery yang didepak beberapa waktu sebelumnya.

Pada awalnya, Mikel Arteta diragukan bisa membawa Arsenal ke arah yang lebih baik, pasalnya sosok yang merupakan mantan pemain The Gunners tersebut tak punya pengalaman melatih tim. Sebelumnya, dia hanya bekerja sebagai assisten Pep Guardiola di Manchester City.

Benar saja, dari segi hasil, Arsenal tampak biasa saja dibawah arahan manajer asal Spanyol ini. Namun dari segi performa, Bellerin dkk tampak membaik. Mereka mulai bisa konsisten, dan masalah lini pertahanan yang selama ini jadi bahan kritikan sudah tampak membaik.

Tak heran jika bek David Luiz sangat optimis Arsenal bisa melangkah maju bersama dengan Mikel Arteta di kursi manajer. Pria asal Spanyol tersebut menurutnya memang sosok yang tepat untuk menangani Arsenal.

“Mikel tampil dengan luar biasa, saya menikmati sepak bola hampir 33 tahun dan masih belajar dan meningkatkan dan untuk melihat betapa indahnya sepak bola,”

“Setiap hari ia mengubah sesuatu dan bagaimana ide dan filosofi baru masih dapat meningkatkan saya sebagai pribadi, sebagai pemain dan sebagai pemimpin.” kata Luiz kepada Adidas, seperti dilansir Goal International.

Selain itu, menurut mantan pemain Chelsea ini, Mikel Arteta telah membantu para pemain untuk memahami skema yang ada di atas lapangan.

“Mikel telah berusaha membuat kami mengerti di mana harus bermain dan bagaimana cara bermain. Ia memberi kami rencana: ‘Jika tim seperti itu, jika ada blok rendah memarkir bus bagaimana Anda dapat membuat peluang, ambil tanggung jawab untuk membuat umpan berisiko.“

“Jika operan tiba di sana maka kami menciptakan peluang dan mencetak gol, jika operan itu tidak tiba di sana kita bisa memenangkan bola dengan cepat.” Tandasnya.

Arsenal sendiri targetkan satu tempat di ajang Liga Champions Eropa musim depan. Namun tampaknya sulit terwujud, pasalnya sekarang mereka berada di peringkat ke-9 pada klasemen sementara Premier League.

Ibrahimovic Pernah Hina Rekan-Rekan Setimnya

Menjadi rekan satu tim seorang pemain top dunia sekelas Zlatan Ibrahimovic mungkin terdengar menyenangkan. Tapi jangan salah, pemain veteran Swedia tersebut ternyata tak segan menghina semua rekan satu timnya. Bagaimana bisa?

Hal ini diungkapkan oleh Bek San Jose Earthquakes, Florian Jungwirth ketika bercerita tentang pengalamannya saat berhadapan dengan LA Galaxy yang kala itu masih diperkuat Ibra.

Sebagaimana diketahui, Zlatan Ibrahimovic memang pernah bermain untuk LA Galaxy. Dia bergabung dengan klub Amerika Serikat tersebut pada tahun 2018 silam, dan baru habis kontraknya pada musim dingin Januari 2020 kemarin, lantas bergabung dengan mantan klubnya, AC Milan.

Nah, selama periode dua musim di Major League Soccer, Ibra memang beberapa kali berhadapan dengan San Jose Earthquakes yang diperkuat Jungwirth. Pertemuan pertama berlangsung di tahun 2018, dan menurutnya saat itu momennya sangat lucu.

Dianggap lucu karena dia menyaksikan Ibra terus meneriaki dan menghina semua rekan satu timnya selama 90 menit pertandingan.

“Saya pikir itu pada tahun 2018 ketika kami bermain di Stanford melawan Zlatan untuk pertama kalinya – dan ia seperti benar-benar menghina semua rekan satu timnya. Selama 90 menit – ia meneriaki semua orang. Itu lucu,” kata Jungwirth dalam sesi tanya jawab di Twitter, seperti dilansir Goal International.

Menariknya lagi menurut Jungwirth bahwa semua pemain LA Galaxy tampak sangat ketakutan dengan teriakan dari Ibrahimovic. Itu adalah momen yang lucu bagi pemain San Jose Earthquakes.

“Semua orang sangat takut padanya dan saya hanya tertawa karena semua orang seperti anak kecil. Mereka seperti, ‘Ayah, bisakah saya mengambil sesuatu darimu?'”

Meski demikian, hal tersebut bukan berarti dia punya masalah pribadi dengan pemain Swedia. Jungwirth mengungkapkan bahwa ia sengaja menghindari ketegangan karena ia merasa hal itu mendorong Ibrahimovic bermain ke tingkat yang lebih tinggi.

“Ia diam terhadap kami – saya tidak mengatakan apa-apa,” katanya.

Ibra sendiri bermain gemilang semasa membela LA Galaxy. Kontraknya baru berakhir pada Desember 2019, dan memutuskan bergabung dengan mantan klubnya, AC Milan. Kontraknya dengan Rossoneri berlaku sampai akhir musim ini.

Miralem Pjanic Ternyata Sempat Diincar Real Madrid dan PSG

Kabar tersebut diungkapkan oleh salah seorang mantan rekan dekat Pjanic di Juventus, Medhi Benatia. Sayangnya, tak satupun dari dua raksasa Eropa itu yang berhasil menggaet sang gelandang.

Miralem Pjanic memang sosok gelandang kreatif, dia adalah kreator serangan mumpuni. Gelandang asal Bosnia dan Herzegovina itu merapat ke Turin pada tahun 2016. Ia didatangkan dari AS Roma, tugasnya adalah menggantikan peranan Paul Pogba yang sebelumnya merapat ke Old Trafford.

Empat musim sudah berlalu, selama periode tersebut Pjanic selalu jadi andalan di lini tengah Bianconneri. Performanya yang apik dan konsisten selama periode tersebut tak ayal memunculkan kabar ketertarikan sejumlah raksasa Eropa.

Kabarnya juga, dua diantara para peminat sang gelandang adalah Paris Saint-Germain dan Real Madrid. Namun pada akhirnya Pjanic tetap bertahan di Allianz Stadium.

Meski demikian, kabar ketertarikan dua raksasa Eropa itu memang benar adanya. Hal ini diungkapkan mantan bek Juventus, Medhi Benatia. Bahkan, hampir setiap edisi bursa transfer, Pjanic selalu mendapat tawaran yang menggiurkan.

“Dia masih memiliki kontrak tiga tahun di Juventus, dan Juve saat ini tengah berada dalam kondisi yang baik. Memang benar bahwa di setiap bursa transfer, ia [Pjanic] punya peluang untuk pergi. PSG benar-benar tertarik padanya, bahkan Real Madrid sempat mengejarnya juga.” ujar Medhi Benatia kepada Tuttosport.

Benatia menyebut bahwa Pjanic tidak akan meninggalkan skuat Si Nyonya Tua dalam waktu dekat ini. Bukan tanpa alasan, karena sang gelandang benar-benar sudah jatuh cinta pada Juventus dan bertekad bertahan lebih lama bersama dengan juara bertahan Serie A italia tersebut.

Medhi Benatia mendukung sepenuhnya rencana Pjanic untuk bertahan di Turin, terlebih klub saat ini sedang dalam kondisi yang bagus.

“Pada akhirnya ia selalu bertahan bersama Juventus. Cintanya kepada Juventus tidak terkalahkan, karena ia merasa percaya diri di tim ini.” ujarnya.

Sayangnya menurut sejumlah kabar yang terdengar, Pjanic bakal dijual Juventus di musim panas nanti. Hasil penjualan eks AS Roma tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli Winger muda Prancis, Kylian Mbappe.

Allegri Akan Jadi Pelatih MU? Begini Jawaban Sang Agen

Manchester United merupakan salah satu klub yang dikaitkan dengan masa depan Massimiliano Allegri. Dia dipercaya akan menggantikan Solskjaer musim depan.

Massimiliano Allegri sendiri sudah menganggur terhitung sejak mengundurkan diri dari kursi manajer Juventus pada musim panas kemarin. Sejak saat itu, dia sudah dikait-kaitkan dengan sejumlah klub, termasuk Manchester united.

Spekulasi kedatangan eks Manajer AC Milan di Old trafford bahkan sudah terdengar saat Jose Mourinho didepak dari kursi pelatih pada Desember 2018 lalu. Namun, pada akhirnya spekulasi itu tak terwujud, Setan Merah menunjuk salah seorang legenda mereka, Ole Gunnar Solskjaer mengisi pos tersebut.

Musim ini, performa Manchester United masih tak karuan. Mereka terkadang tak konsisten, bahkan sempat terdepak dari lima besar klasemen. Menyusul situasi tersebut, isu kedatangan Allegri ke Old Trafford pun bermunculan lagi.

Namun, sampai sekarang spekulasi ini tak pernah terwujud. Dan isu-isu ini ternyata tak pernah diperdulikan oleh mantan manajer sukses Juventus. Setidaknya demikian yang dikatakan oleh Agen Transfernya, Giovanni Branchini.

Diungkapkan bahwa sekarang, Kliennya masih sangat menikmati masa liburan setelah lima musim menangani Juventus.

“Tidak ada yang berpikir soal pelatihnya di tahun depan. Semuanya hanya memikirkan musim ini, kami pun berfokus pada musim ini saja,”

“Max menikmati tahun-tahun yang damai ini, dia memang membutuhkannya. Tenaganya telah terisi dan hidup dalam realita yang sama seperti kita semua. kami akan lihat bagaimana situasinya berjalan,” ujar sang agen ke Calciomercato.

Selain menjadi agen transfer Allegri, branchini juga bekerja sebagai agen transfer sejumlah pemain termasuk Ivan Perisic. Saat ini, winger Kroasia itu sedang menjalani masa peminjaman di Bayern Munchen.

Dia jarang bermain, sehingga diyakini yang bersangkutan akan dipulangkan ke San Siro. Namun, Branchini yakin Perisic akan bertahan di klub Jerman.

“Semuanya berjalan sesuai dengan rencana lalu ada cedera yang menghentikannya. Kami sudah mengejar, kemudian jeda musim terjadi,”

“Saya tak tahu apa yang akan terjadi, dia adalah atlet yang profesional. Bayern benar-benar masih di bingkai, dia sedang memikirkan rencana bertahan di Jerman,” tutup Branchini.

Mancini Siap Jika Euro 2020 Batal atau Ditunda

Wabah Virus Corona sudah semakin menjadi-jadi, jika tak kunjung mereda besar kemungkinan turnamen Piala Eropa atau Euro 2020 ditunda bahkan batal digelar.

Sebagai informasi, pada musim panas mendatang UEFA memang akan menggelar turnamen ke-16 dari Piala Eropa atau Euro. Rencananya, kompetisi tersebut akan digelar di 12 negara Eropa, dengan ibu kota masing-masing Negara yang akan jadi tuan rumahnya.

Akan tetapi, menyusul pandemi Virus Corona yang sudah semakin memprihatinkan, beberapa pekan terakhir muncul wacana bahwa kompetisi tersebut akan ditunda bahkan mungkin ditiadakan. Pasalnya, beberapa kompetisi klub di Eropa termasuk Liga Champions sudah ditangguhkan.

Andai memang demikian keputusan yang diambil, pelatih Timnas Italia Roberto Mancini sama sekali tidak keberatan.

Menurutnya, ada hal yang jauh lebih penting dibandingkan Euro 2020, yang tak lain adalah kesehatan semua orang. Apalagi, mantan pelatih Inter Milan tersebut melihat langsung bagaimana rakyat Italia banyak yang meregang nyawa karena Virus COVID-19 ini.

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya “ Demikian menurut Mancini kepada Rai Sport.

“Saya yakin bahwa ada hal lain yang harus diprioritaskan ketimbang Euro 2020, dan saya tidak ragu sedikitpun akan itu. Melihat banyak orang meninggal dalam beberapa hari terakhir benar-benar menyakitkan bagi saya.” Kata Mancini kepada Rai Sport.

Di samping itu, dengan penundaan turnamen ini juga bisa menghadirkan manfaat lain. Salah satunya adalah persiapan menuju kompetisi yang akan lebih lama.

“Jika mereka menunda turnamen ini, maka kami punya waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri untuk memenangkan turnamen itu. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan semua orang dan semua orang bisa kembali ke stadion dan menikmati pertandingan yang ada.” ujarnya.

Memang tidak bisa dibantah, fakta bahwa timnas Italia akan menjadi salah satu tim yang dirugikan jika Piala Euro 2020 digelar sesuai rencana. Pasalnya, ada banyak pemain mereka yang terancam tidak bisa bermain karena terjangkit Virus ini.

Misalnya Daniele Rugani, bek muda Juventus dan pemain Fiorentina, Patrick cutrone. Keduanya sudah terinfeksi wabah Virus Corona.